Kamis, 19 April 2012

KEPEMIMPINAN MILITER


BAB I
PENDAHULUAN


 I.   Latar Belakang
Gerakan reformasi  telah menghadapkan TNI pada berbagai tantangan. Hingga saat ini, militer belum sepenuhnya professional, walaupun demikian upaya TNI untuk keluar dari kancah politik dan menata dirinya tetap. Krisis kredibilitas yang pernah dialamatkan  ke institusi tentara akibat tindakan-tindakan diluar norma-norma profesionalisme militer. Reformasi militer di tubuh TNI belum sepenuhnya melepaskan TNI sebagai tentera politik. Hal ini diakui oleh elit TNI yang menyatakan reformasi kultural membutuhkan waktu yang lama. Sebagai tentara politik, militer memiliki kharakter inti yang dipopulerkan  Finer dan Janowits, yaitu meliter secara sistematis mengembangkan keterkaitan sejarah dengan perkembangan bangsa  serta arah revolusi negara
Memang kader dari militer umumnya saya anggap lebih berpotensi menjadi pemimpin dari pada kader dari sipil, tetapi bukan berarti kader dari sipil tidak ada yang mampu menjadi pemimpin yang baik. Saya percaya bahwa masih ada kaum sipil yang mampu memimpin dengan baik, hanya saja belum ditemukan.
Memang peranan militer hampir tak bisa dipisahkan dalam hidup bangsa ini mulai dari ekonomi, sosial, dan politik,. Nasution sampai sekarang mungkin masih meringis di dalam kuburnya menyesali "penyelewengan" definisi gagasannya, dwifungsi ABRI, saat Orde Baru. Edi Sudradjat pun jungkir-balik menyerukan "kembali ke barak". Tapi kita terlalu sulit untuk melepaskan pengaruh militer di dalam ekonomi, sosial, maupun politik. Seperti yang kang Kang Asep bilang, militer terlalu dimanjakan selama berpuluh-puluh tahun. Bayangkan saja, di DPR zaman Orde Baru, ABRI punya 100 jatah gratis di sana tanpa harus ikut pemilu, dengan alasan menjaga kenetralan ABRI dalam pemilu. 100 itu dari total 400 anggota dewan. Begitu juga fenomena yang terjadi di MA, DPA, bahkan eksekutif. Itupun hanya bisa sos-pol saja, belum lagi posisi-posisi petinggi militer dalam perekonomian, seperti di BUMN.
Dengan cara apapun.Untuk merombak total kharakter TNI sebagai tentara politik, otoritas-otoritas politik sipil dihadapkan pada belum lengkapnya regulasi politik yang mengatur  posisi TNI dalam sistem politik Indonesia. UU No 34 tahun 2004 tentang TNI masih butuh penyempurnaan.  Keberadaan regulasi ini dapat menyempurnakan dan menularkan prinsip good governance ke sektor pertahanan.Good governance dapat dijadikan   titik awal menciptakan  tentara professional  dalam sistem pertahanan yang demokratis.
Namun perjalanan reformasi militer mendorong good governance relatif tidak berjalan, sekedar mencontohkan, sampai sekarang institusi yang tidak dapat disentuh oleh KPK, sebagai lembaga pemberantasan korupsi, tapi begitu sulit untuk masuk ke tubuh institusi yang satu ini, bagaimana mungkin TNI mau malakukan reformasi ditubuhnya, sementara untuk audit anggaran militer saja, KPK dibuat tidak berdaya untuk masuk ke tubuh isntitusi militer yang satu ini.
Militer Indonesia, memiliki sejarah yang sedikit unik dari negara lain. TNI terbentuk dari proses pengalaman sejarah perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan. Profesionalitas militer bagi TNI dikenal kemudian dengan  pasang surutnya dinamika politik nasional. Bahkan Harold Crouch,1999, di dalammiliter dan politik Indonesia mengatakan bahwa personel militer merupakan bagian dari  elit politik dan ekonomi  dengan mempertahankan orde sosial yang ada. Pernyataan ini tentu didukung oleh  bukti emperis atas peran TNI dalam kehidupan politik nasional  sepanjang rezim orde baru. TNI dimasa itu terkesan  lebih mengedepankan urusan-urusan  non- militer dibandingkan membangun profesionalismenya, akibatnya masyarakat sipil merasakan kehidupan politik yang tidak kondusif  bagi perkembangan demokrasi .
Gerakan ini berhasil menuju kearah reformasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan tokoh pergerakan pada tahun 1998. Salah satu pesan atau tuntutan mahasiswa pada tahun 1998 adalah adili Soeharto dan kroninya, dan yang kedua yaitu dwi fungsi ABRI menjadi tuntutan yang tidak bisa dinafikan pada era reformasi setelah rezim otoritariat Soeharto tumbang.
.
Keuntungan Karir Militer
Ketika melihat ke masa depan, kadang-kadang sangat sulit untuk menetap di jalur karir. AS perkiraan Departemen Tenaga Kerja bahwa seorang individu mungkin mengganti pekerjaan hingga sepuluh kali antara usia 18 dan 38. Jumlah ini termasuk mengubah pengusaha atau benar-benar beralih bidang karir. Jika Anda mencari stabilitas sedikit lebih dari pilihan karir Anda temukan di dunia sipil, Anda mungkin menemukan keuntungan yang Anda cari dengan berbagai pilihan karir militer. 
Salah satu keuntungan yang paling menarik dari karir militer adalah kemungkinan untuk memperoleh dana untuk sekolah Anda. Ini pengetahuan umum bahwa perguruan tinggi, universitas, dan biaya sekolah teknik meningkat. Sementara banyak lulusan meninggalkan sekolah dengan gelar dan pengalaman yang menjanjikan besar bagi mereka, mereka juga menghadapi utang yang signifikan karena pinjaman mahasiswa. Dengan memasukkan militer dan membangun karir Anda melalui cabang yang Anda pilih,
Siapapun saat ini melayani di militer akan memberitahu Anda bahwa karir militer menawarkan menarik, pengalaman kerja bermanfaat.Dalam pekerjaan sipil, Anda jarang mendapatkan kesempatan untuk perjalanan dan menjangkau budaya lain seperti karir militer memungkinkan Anda untuk melakukan. Dalam militer, Anda sering bisa melihat tangan pertama pengaruh positif dan dampak yang Anda miliki pada masyarakat atau penduduknya. Selain itu, karir militer memungkinkan Anda untuk bekerja dengan teknologi yang paling up-to-date dan peralatan disukai dalam pilihan karir Anda, kesempatan karir yang sipil banyak yang tidak ditemui. 
Karir militer tidak hanya memberikan pekerjaan. Mereka menawarkan Anda kesempatan untuk mengembangkan keterampilan hidup yang penting dan untuk mendapatkan pengalaman sebagai seorang pemimpin. Biasanya tidak hanya pekerjaan 9-ke-5, karir militer memberi Anda kesempatan untuk menguji diri sendiri dan belajar lebih banyak tentang dunia di sekitar Anda. Akibatnya, Anda mendapatkan pengetahuan dengan pengalaman hidup, bukan dengan duduk dan menonton mereka. Anda akan mendapatkan kemampuan Anda bahkan tidak tahu kau punya, seperti keterampilan komunikasi yang lebih baik, pengambilan keputusan keterampilan, dan analisis ditingkatkan. 
Dalam karir militer, Anda dijamin keamanan kerja. Selama Anda berkomitmen untuk cabang pelayanan Anda, Anda memiliki pekerjaan. Itu sangat bervariasi dari angkatan kerja sipil. Dalam krisis ekonomi terakhir, keamanan kerja merupakan salah satu aspek yang paling didambakan kerja. Dengan perusahaan PHK merajalela di seluruh Amerika Serikat, karir militer terlihat lebih dan lebih diinginkan bila Anda tahu bahwa pekerjaan Anda aman. 
Dengan banyak keuntungan, karir militer masuk akal meningkat menjadi seseorang yang ingin memposisikan dirinya untuk sukses di masa depan. Tidak hanya karir militer dapat menawarkan pekerjaan menarik, tetapi mereka juga dapat memberikan keamanan ekonomi. 
Kekurangan Karir Militer
Meskipun mungkin sulit untuk lebih besar daripada keuntungan alami dari karir militer, ada beberapa kerugian untuk daftar Paman Sam sebagai majikan Anda. Militer membutuhkan sebuah komitmen yang kuat dari para anggotanya dan, sebagai hasilnya, dari keluarga mereka. Karir militer sering membutuhkan individu untuk melayani di lokasi yang jarak jauh dari rumah dan di lingkungan yang berbahaya. Seseorang yang memiliki karir militer tidak mungkin dapat mengambil kesempatan yang tersedia terlibat di sektor swasta karena jangka panjang komitmen yang dibuat untuk melayani di militer. Sebelum menandatangani pada garis putus-putus, Anda harus mempertimbangkan kerugian untuk karier militer. 
Ketika melayani di militer, Anda dan keluarga Anda harus siap untuk berkorban. Kadang-kadang pengorbanan adalah gangguan kecil dan kecil untuk kehidupan sehari-hari. Namun, kadang-kadang melibatkan mengambil keluarganya dan pindah ke lokasi yang jauh, serta jam tidak teratur dan panjang. Harapan tinggi diberikan pada petugas dan keluarganya, termasuk anak-anak mereka. Aspek ini bisa menjadi sangat menuntut dan menyebabkan banyak stres. 
Ketika Anda sedang dipekerjakan oleh militer, Anda memiliki kewajiban waktu tertentu dan Anda harus memenuhi komitmen. Kontrak ini hampir tidak mungkin untuk bernegosiasi atau memilih keluar dari. Karena pelatihan khusus atau negosiasi lain yang dibuat sebagai Anda masukkan militer, Anda berkewajiban untuk melayani jangka lengkap Anda terlepas jika Anda rindu atau telah menawarkan kesempatan sekali seumur hidup dengan pekerjaan di sektor swasta. Anda harus menghormati komitmen Anda untuk militer. 
Hal ini juga sangat mungkin karir militer Anda akan dikenakan Anda untuk kekerasan atau lingkungan kekerasan. Militer AS mengirim tentara untuk perang dan misi lain yang mungkin meletus dalam situasi berbahaya. Hal ini tidak hanya mengancam hidup Anda, tetapi juga memberi tekanan ekstra pada Anda dan keluarga Anda. Itu relatif sulit untuk menjalani hari-hari kegiatan saat Anda bertanya-tanya jika Anda atau kekasih Anda akan membuatnya pulang dengan selamat. 
Sementara militer menawarkan banyak manfaat dengan pilihannya atas karir, ada juga pencegah bergabung setiap cabang layanan.Kerugian mungkin tidak layak untuk Anda. 
ujur, saya termasuk salah satu dari yang trauma dengan pemimpin militer. Tetapi sayabersyukur bahwa saya tidak mengalami horor 32 tahun terlalu lama, karena 8-9 tahun setelah saya menghirup udara di dunia, kudeta berdarah itu terjadi.

Memang kader dari militer umumnya saya anggap lebih berpotensi menjadi pemimpin daripada kader dari sipil, tetapi bukan berarti kader dari sipil tidak ada yang mampu menjadi pemimpin yang baik. Saya percaya bahwa masih ada kaum sipil yang mampu memimpin dengan baik, hanya saja belum ditemukan atau sudah terlalu apatis lalu hanya jadi pengamat saja.memang peranan militer hampir tak bisa dipisahkan dalam hidup bangsa ini mulai dariekonomi, sosial, dan politik. Nasution sampai sekarang mungkin masih meringis di dalam kuburnya menyesali "penyelewengan" definisi gagasannya, dwifungsi ABRI, saat Orde Baru. Edi Sudradjat pun jungkir-balik menyerukan "kembali ke barak". Tapi kita terlalu sulit untuk melepaskan pengaruh militer di dalam ekonomi, sosial, maupun politik. Seperti yang kang Kang Asep bilang, militer terlalu dimanjakan selama berpuluh-puluh tahun. Bayangkan saja, di DPR zaman Orde Baru, ABRI punya 100 jatah gratis di sana tanpa harus ikut pemilu, dengan alasan menjaga kenetralan ABRI dalam pemilu. 100 itu dari total 400 anggota dewan. Begitu juga fenomena yang terjadi di MA, DPA, bahkan eksekutif. Itupun hanya bisa sos-pol saja, belum lagi posisi-posisi petinggi militer dalam perekonomian, seperti di BUMN.
Profesional militer memiliki tugas penting, dan kualitas yang mereka melahirkan sebagai individu menentukan keberhasilan atau kegagalan.Spanning keseluruhan karir militer berbagai, para pemimpin sering menerima gelar baik pelatihan dan instruksi untuk membantu dalam keberhasilan mereka. Namun, banyak kualitas yang diperlukan untuk karier yang berkembang adalah bawaan. Beberapa kualitas yang paling penting yang harus dimiliki oleh seorang profesional militer termasuk disiplin diri, kebugaran fisik, komitmen, kepemimpinan, dan ambisi. 
Disiplin diri, jika tidak secara alami dimiliki, cukup tantangan untuk berkembang. Namun, salah satu keterampilan yang paling penting bagi pejabat atau pemimpin lainnya. George Washington pernah mengatakan, "Tidak ada yang lebih berbahaya ke layanan, dari mengabaikan disiplin;. Untuk disiplin itu, lebih dari angka, memberikan satu keunggulan militer atas yang lain" Tidak hanya tentara atau milisi perlu disiplin, tetapi anggotanya harus mampu membuat diri mereka menjawab terhadap kewajiban yang lebih mendesak atau tujuan.
Disiplin diri mencakup kemauan ekstrim, pengorbanan, dan dedikasi untuk suatu tujuan atau tujuan dihargai lebih dari kehendak bebas.Melalui disiplin diri bahwa seorang prajurit mampu untuk berkomitmen berat, jadwal diperintah dan strategi hidup untuk lebih baik dirinya dan negaranya. 
Ketika anda mendaftar untuk militer, Anda membuat komitmen yang sangat serius untuk beberapa tahun ke depan, terutama tergantung pada apakah Anda berpartisipasi dalam pelatihan khusus. Namun, bukan hanya komitmen waktu untuk beberapa tahun ke depan itu terpisahkan untuk keberhasilan seseorang sebagai seorang professional militer
 Kesuksesan sejati membutuhkan komitmen dari pikiran, tubuh, dan jiwa. Banyak pemimpin militer yang sukses membuat komitmen militer yang paling penting dalam hidup mereka. Setiap kali seseorang membuat komitmen yang sebenarnya, pengorbanan harus mengikuti. Selain itu, keluarga dan teman-teman harus ikut serta dalam pengorbanan juga. 
Kemampuan kepemimpinan adalah salah satu karakteristik yang memisahkan seorang profesional militer yang baik dari yang besar.Sementara keterampilan kepemimpinan dapat ditingkatkan melalui pengajaran, secara luas diyakini bahwa sifat-sifat dasar kepemimpinan adalah bawaan. Orang sering ditemukan secara alami memiliki karisma dan rasa percaya diri yang mengilhami orang lain untuk bergabung dengan mereka dalam menyelesaikan ide-ide dan tujuan mereka. "Pemimpin adalah seorang pedagang di harapan," kata Napoleon Bonaparte. Tersebut adalah benar, sebagai pemimpin yang efektif memiliki kemampuan luar biasa untuk menarik pengikut dan penggemar di mana pun mereka pergi. Benar pemimpin latihan kesabaran, baik pengambilan keputusan kemampuan, dan integritas yang mendorong iman orang lain di dalamnya. Seseorang tidak dapat menjadi seorang profesional militer yang sukses tanpa memiliki kemampuan pemimpin. 

Untuk menjadi profesional yang sukses dalam karir militer, kita juga harus memiliki ambisi. Tanpa ambisi, seseorang tidak memiliki motivasi untuk berjuang untuk tidak hanya lebih baik, tapi menjadi yang terbaik. Ambisi sering disertai oleh kemampuan untuk membayangkan suatu tujuan jangka panjang. Mereka yang dapat melihat masa lalu tujuan awal untuk sesuatu yang lebih besar dan lebih baik akan pergi ke karir yang menjanjikan untuk tidak hanya menantang mereka, tapi untuk menginspirasi mereka. Namun, tanpa ambisi itu, seorang tentara menjadi terlena dan tidak menyadari kesempatan sekitarnya. 
Jika seseorang ingin karir militer yang luar biasa, ia harus siap untuk menunjukkan kualitas yang akan membuat dia seorang profesional militer dicapai. Ambisi untuk menjadi kebugaran, terbaik fisik, komitmen, kemampuan kepemimpinan, dan disiplin diri akan membantu seseorang mencapai tujuan. Siapapun saat ini melayani di militer akan memberitahu Anda bahwa karir militer menawarkan menarik, pengalaman kerja bermanfaat.Dalam pekerjaan sipil, Anda jarang mendapatkan kesempatan untuk perjalanan dan menjangkau budaya lain seperti karir militer memungkinkan Anda untuk melakukan. Dalam militer, Anda sering bisa melihat tangan pertama pengaruh positif dan dampak yang Anda miliki pada masyarakat atau penduduknya. Selain itu, karir militer memungkinkan Anda untuk bekerja dengan teknologi yang paling up-to-date dan peralatan disukai dalam pilihan karir Anda, kesempatan karir yang sipil banyak yang tidak ditemui. 
Karir militer tidak hanya memberikan pekerjaan. Mereka menawarkan Anda kesempatan untuk mengembangkan keterampilan hidup yang penting dan untuk mendapatkan pengalaman sebagai seorang pemimpin. Biasanya tidak hanya pekerjaan 9-ke-5, karir militer memberi Anda kesempatan untuk menguji diri sendiri dan belajar lebih banyak tentang dunia di sekitar Anda. Akibatnya, Anda mendapatkan pengetahuan dengan pengalaman hidup, bukan dengan duduk dan menonton mereka. Anda akan mendapatkan kemampuan Anda bahkan tidak tahu kau punya, seperti keterampilan komunikasi yang lebih baik, pengambilan keputusan keterampilan, dan analisis ditingkatkan. 
Dalam karir militer, Anda dijamin keamanan kerja. Selama Anda berkomitmen untuk cabang pelayanan Anda, Anda memiliki pekerjaan. Itu sangat bervariasi dari angkatan kerja sipil. Dalam krisis ekonomi terakhir, keamanan kerja merupakan salah satu aspek yang paling didambakan kerja. Dengan perusahaan PHK merajalela di seluruh Amerika Serikat, karir militer terlihat lebih dan lebih diinginkan bila Anda tahu bahwa pekerjaan Anda aman. 
Dengan banyak keuntungan, karir militer masuk akal meningkat menjadi seseorang yang ingin memposisikan dirinya untuk sukses di masa depan. Tidakhanya karir militer dapat menawarkan pekerjaan menarik, tetapi mereka juga dapat memberikan keamanan ekonomi. Kita tak punya tokoh sipil yg mumpu karena selama ini tak ada sistem pengkaderan sipil yang terorganisir. Ormas dan partai politik sejatinya memiliki peran untuk melahirkan calon2 pemimpin di masa depan. Namun ini masih jauh panggang dari api. Untuk ormas, NU, Muhammadiyah, dan HMI dulu punya peran ini meski terbatas dan kurang terorganisir. Kalo untuk partai, baru Golkar dan PKS yang punya pengkaderan yang cukup rapi, tapi itu belum cukup. Kita butuh pengkaderan lebih banyak lagi oleh lebih banyak lagi ormas dan partai. Sayangnya partai2 kita gak ada yg mau kerja2 semacam ini, kerjanya cuma 5 tahun sekali menjelang pemilu: cari uang sebanyak2nya
Lemahnya sipil tak bikin kaget karena selama 32 tahun Soeharto mengunci potensi orang2 sipil dengan bikin organ2 korporatisme negara melalui pembentukan organ2 tunggal di tiap sektor masyarakat, seperti SPSI, HKTI, MUI, PWI, HNSI, KNPI, dll.Untuk bangun kepemimpinan sipil, kita harus bangun korporatisme masyarakat dimana di setiap sektor harus ada wadah-wadah organisasi sebagai ajang penggojlokan calon pemimpin sipil.




MEMBANGUN KARAKTER PEMIMPIN MILITER,
Kepemimpinan sebagai sebuah perspektif. 
Membahas lebih dalam fungsi fungsi melekat yang di miliki oleh seorang Perwira sebagai pemimpin dan komandan, karena pada dasarnya Perwira dapat menjadi seorang pemimpin dan sekaligus komandan apabila ia mempunyai otoritas formal karena jabatan yang sedang diembannya. 

Pada hakekatnya Perwira adalah pemimpin bagi anak buahnya, sehingga harus mempunyai kedudukan sebagai : komandan, pemimpin, guru, pembina, bapak dan teman.
Catatan menarik dalam bab ini adalah ; (1)  Kepemimpinan merupakan satu sistem, sehingga dalam memimpin organisasi atau satuan / unit harus ada aspek kerjasama, soliditas dan keterpaduan yang seimbang. (2)  Sikap sebagai seorang Komandan tidak harus setiap saat ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi pada saat saat tertentu dimana ybs harus dpt mengambil keputusan dalam memilih lebih dari satu alternatif pilihan. (3)  Kepemimpinan Militer dituntut untuk lebih menonjolkan keteladanan, soliditas, solidaritas dan kemampuan utk melakukan komunikasi dua arah dg anggota maupun masyarakat luas.Karenanya dibutuhkan adanya karakter kepemimpinan yang kuat dan handal.



      
Pemimpin dilahirkan dan dicetak untuk mengatasi krisis serta memberikan kemaslahatan.


Menyadari bahwa Pemimpin yang baik dan maslahat adalah pemimpin yang mampu mengendalikan dan mengatasi krisis, maka diperlukan integritas dan kepekaan (sense of crisis) dalam rangka mengambil keputusan yang arif, cepat dan tepat.



Karenanya wajib bagi seorang pemimpin untuk menguasai manajemen krisis sebagai bekal dalam menghadapi konflik dan krisis yang makin kompleks dan multidimensional yang meliputi ;

(1) karakter kepemimpinan yang tangguh, hal ini mengingat bahwa sekecil apapun konflik apabila dibiarkan akan semakin besar dan menjadi krisis yang berdampak sesuatu yang tidak konstruktif, bahkan destruktif,


(2) wawasan kebangsaan yang tinggi, mengingat bahwa pemahaman akan kebangsaan mengikat dan menyatukan kerentanan yang diakibatkan oleh kebhinekaan kita,

(3) mampu melaksanakan musyawarah untuk mufakat,
(4) Konsiliator yang baik, dan
(5) berani mengambil keputusan dan tindakan yang tegas tapi terukur dalam situasi mendesak dan kritis.


Catatan menarik dalam bab ini adalah ;
(1) Pemimpin yang baik adalah yang dilahirkan (dalam artian sudah mempunyai bakat memimpin) dan kemudian dicetak (dalam artian dipersiapkan dengan dididik, dilatih dan diberi penugasan).



(2) Salah satu kompetensi pemimpin adalah seorang yg dpt menyelaraskan perilaku pribadinya dengan tujuan satuan dan lingkungan sekitar sehingga dapat menimbulkan manfaat.

                                                                
Kepemimpinan yang efektif. 


Adalah adanya timbul rasa ketulusan bawahan untuk melaksanakan tugas yang diberikan dan tingginya iklim partisipasi dan inovasi. Kepemimpinan efektif membutuhkan kecerdasan, talenta dan karakter, tapi yang paling utama adalah karakter yang kuat, karena kecerdasan dan talenta tinggi dapat menimbulkan arogansi dan kesombongan yang dapat berbuah kejatuhan.
Kepemimpinan Militer yang efektif adalah kepemimpinan yang mempunyai karakter,yang syarat utamanya ;

(1)  Visioner, pemimpin yg memiliki cita cita tinggi dan berwawasan jauh kedepan,

(2)  Komitmen Moral, yaitu keteguhan hati dan pikiran dalam menjaga amanat

       Yang diemannya,

(3)  Motivator Handal, yaitu semangat tinggi yang disertai dengan kemampuan inovasi   dan intuisi tinggi,
(4)  Fokus menghadapi Masalah, yaitu mampu memberikan waktu yg cukup untuk  satuan dan mendahulukan yang penting, 
(5)  Konsisten, yaitu taat azas, teguh dalam pendirian dan keyakinan (yg benar).



       Adapun yang menjadi indikator Kepemimpinan Efektif ;

(1)  Rasa Percaya Bawahan kepada Pimpinan,
(2) Suasana Nyaman dan Kondusif,

(3)  Disiplin Tinggi,

(4) Moralitas Mulia,
(5) Moril Militan,

(6)  Profesionalisme Keprajuritan, dan  Solid.





Catatan menarik dalam bab ini adalah ;
(1)  Kepemimpinan Efektif memerlukan "self leadership" yaitu kemampuan diri dalam mengendalikan hawa nafsu.
(2)  Ditabukannya bagi seorang pemimpin untuk memaksakan diri mencari-cari jabatan  dan harta (karena akan datang dengan sendirinya sesuai strata dan kedudukan  nantinya).




                                                              

Pengembangan Karakter Pemimpin Militer.


Karakter adalah struktur ideal pada jiwa dan raga yang membedakan seseorang dengan yang lain, dengan demikian maka Pemimpin yang berkarakter adalah seorangpemimpin yang memiliki jiwa dan raga yang sehat dan kuat sehingga memiliki keunggulan dalam segala hal.
Dalam hal ini dibutuhkan kompetensi berupa etika dan akhlak yang tinggi.
Dalam membentuk Karakter Kepemimpinan terdapat adanya "proses membangun karakter" yaitu suatu mekanisme yang berkesinambungan dan transparan melalui pendidikan, latihan dan penugasan yang sistematis dan berkelanjutan, yang dimulai dari pencarian gagasan, dilanjutkan dengan Pembentukan dan pembinaan kejiwaan.


                              Karakter Kepemimpinan Handal mempunyai sifat ; (1) Jujur, (2) berani dan bertanggung jawab, (3) tidak mementingkan diri sendiri, (4) Adil, (5) Ramah tamah dan kasih sayang, (6) Setia, (7) Berinisiatif, (8) Bijaksana dan mampu mengendalikan diri, (9) Cerdas, (10) Tegas, (11) Dapat Dipercaya, (12) Antusias, (13) Ulet, dan (14) Rendah Hati.Mengingat Pembangunan Karakter Kepemimpinan Militer membutuhkan waktu yang lama, proses berjenjang, sistematis dan berkelanjutan, maka diperlukan adanya ; 1. KEBIJAKAN, bahwa Pembangunan Karakter Kepemimpinan merupakan tanggung jawab bersama sekaligus fungsi komando di seluruh strata jajaran TNI maupun TNI AD. 2. STRATEGI : a. Jangka Pendek : sistem perekrutan yang baik dan berkesinambungan dan adakan pendidikan - latihan. b. Jangka Sedang : kembangkan pola ToD dan ToA serta pembentukan Karakter Kepemimpinan Militer dijadikan Prioritas Utama. c. Jangka Panjang : pemimpin di lingkungan militer yang berhasil dapat diarahkan untuk ditempatkan pada level nasional.






                                               . SASARAN :


Ø  Terciptanya kader pemimpin TNI AD yang mumpuni.
Ø  Kontibusi penyediaan kepemimpinan Nasional.
Ø  Karakter yang kuat mengutamakan munculnya kesadaran pribadi untuk menjadi pemimpin yang TIDAK HANYA memiliki kesadaran pribadi tetapi juga untuk terus mengembangkan diri
Ø  Pemimpin yang dilahirka tidak mempunyai konsepsi membangun, sedangkan Pemimpin yang HANYA dicetak punya konsep tapi tidak mampu menjalankan, karenanya perlu adanya kombinasi disamping dilahirkan, pemimpin JUGA HARUS dicetak
Ø   Pemimpin yang baik harus mampu menyiapkan pemimpin yang baik pula.
















presiden







Sebagai anak bangsa tentulah menginginkan seorang pemimpin sesuai
dengan angan-angan, kemauan dan demi masa depan bangsanya.

Apakah pemimpin yang cocok untuk negeri ini seorang sipil, pengusaha, seniman, militer, intelektual ? semuanya berhak, bahkan seorang tukang becakpun berhak untuk dipilih dan memilih, namun apakah bisa terwujud ?

Sebelum jauh menelaah, mengidolakan pemimpin yang cocok untuk negeri ini, berikut kutipan plus minus dari para presiden yang telah memimpin negeri ini .
Bung Karno adalah presiden pertama Indonesia yang juga dikenal sebagai
arsitek alumni dari Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1925.

Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.Soekarno adalah penggali Pancasila karena ia yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai dasar negara Indonesia itu dan ia sendiri yang menamainya Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.
Salah satu kesalahan beliau adalah terlalu berkiblat pada Komunis sehingga  kurang menyukainya, ide beliau dengan “Nasakom-nya” gagal dan kesalahan fatal.

Soeharto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda,  dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Setelah Gerakan 30 September, Soeharto menyatakan bahwa PKI adalah pihak yang bertanggung jawab dan memimpin operasi untuk menumpasnya. Operasi ini menewaskan lebih dari 500.000 jiwa.

Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dan resmi menjadi presiden pada tahun 1968. Ia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.Peninggalan Soeharto masih diperdebatkan sampai saat ini.    Dalam masa kekuasaannya, yang disebut Orde Baru,

Soeharto membangun negara yang stabil dan mencapai kemajuan ekonomi dan infrastruktur. Suharto juga membatasi kebebasan warganegara Indonesia keturunan
Tionghoa, menduduki Timor Timur.Patut diakui diera Soeharto, swasembada pangan benar-benar terwujud “murah sandang pangan”.

Kesalahan beliau adalah terlalu mengekang kebebasan mengeluarkan pendapat rakyatnya.

Bacharuddin Jusuf Habibie (lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936;
umur 75     tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, sehingga mencapai puncak karier sebagai seorang wakil presiden bidang teknologi. Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Suharto.

     Pada era pemerintahannya yang singkat ia berhasil memberikan landasan kokoh bagi Indonesia, pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah UU otonomi daerah.Salah satu kesalahan yang dinilai pihak oposisi terbesar adalah setelah menjabat sebagai Presiden, B.J. Habibie memperbolehkan diadakannya referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste), ia mengajukan hal yang cukup menggemparkan publik saat itu, yaitu mengadakan jajak pendapat bagi warga Timor Timur untuk memilih merdeka atau masih tetap menjadi bagian dari Indonesia. Pada masa kepresidenannya, Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi negara terpisah yang berdaulat.Patut diacungi jempol beliau adalah Intelektual yang diakui dunia dan kebanggaan Indonesia, namun dia dapat getah atas pemerintahan sebelumnya, sehingga pemerintahan-nya yang singkat belum menampakkan hasil.

Kiai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang,
Jawa Timur, 7 September 1940 – meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur   69 tahun)adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional.Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa, kebebasan beragama dan mengeluarkan pendapat 

kelemahan beliau adalah terlalu percaya bisikan dari orang-orang disekitarnya sehingga mengeluarkan kebijakan yang kontroversi, selain itu beliau tidak bisa membedakan antara dirinya sebagai pemimpin umat Islam [NU] dan dirinya sebagai pemimpin negara.

Megawati Soekarnoputri atau umum dikenal sebagai Mega (lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947; umur 64 tahun) adalah Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat sejak 23 Juli 2001 – 20 Oktober 2004. Ia merupakan presiden wanita Indonesia pertama dan anak presiden Indonesia pertama yang mengikuti jejak ayahnya menjadi presiden.Masa pemerintahan Megawati ditandai dengan semakin menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, dalam masa pemerintahannyalah, pemilihan umum presiden secara langsung dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia.

Ketidak konsekwensi-nya sebagai pembela wong cilik dimasa pemerintahan beliau lahir kebijakan buruh “OutSourcing [kontrak]” dan ACFTA yang merugikan wong cilik.

Susilo Bambang Yudhoyono (lahir di Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur,Indonesia, 9 September 1949; umur 62 tahun) adalah Presiden Indonesia ke-6 yang menjabat sejak 20 Oktober 2004. Ia, bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, terpilih dalam Pemilu Presiden 2004[1][2]. Ia berhasil melanjutkan pemerintahannya untuk periode kedua dengan kembali memenangkan Pemilu Presiden 2009, kali ini bersama Wakil Presiden Boediono. Sehingga, sejak era reformasi dimulai, Susilo Bambang Yudhoyono merupakan Presiden Indonesia pertama yang menyelesaikan masa kepresidenan selama 5 tahun dan berhasil terpilih kembali untuk periode kedua.

Anggapan banyak orang beliau tebang pilih dalam berantas korupsi,

Soekarno seorang Arsitektur, sudah pernah mewakili kalangan professional
 sipil untuk memimpin negeri ini…

Soeharto seorang Militer, sudah pernah mewakili kalangan militer untuk memimpin negeri ini…
B.J.Habiebie seorang Intelektual, sudah mewakili kalangan intelektual untuk memimpin negeri ini…
Gus Dur, seorang Intelektual Religius , sudah mewakili kalangan agamis untuk memimpin negeri ini…
Megawati seorang wanita, sudah mewakili kalangan perempuan untuk negeri ini ….
SBY seorang militer, mewakili kalangan militer untuk kedua kalinya…

Kalau kita lihat dari sipil, militer, agamis, wanita sudah pernah meminpin negeri ini, banyaknya para pengusaha yang berkecimpung dalam perpoltikan, tentu ada yang berpendapat “sa’atnya prngusaha memimpin”.

Tunggu dulu !!! memang benar sejak negeri ini berdiri belum ada pemimpin [presiden] dari kalangan pengusaha, namun tak bisa bohong kalau para pengusaha ada dibelakang para presiden yang telah memimpin negeri ini hingga sekarang.

Melihat Gunung Tambang yang dikuasai Freeport yang sa’at ini telah jadi jurang, tentulah berlimpah ruah hasil kekayaannya namun kenapa rakyat Papu masih ada yang Pakai KOTEKA pertanda kemiskinan.

Belum lagi kekayaan alam yang dikuasai asing [USA} sementara rakyatnya hanya gigit jari.


Sebagai anak bangsa saya tentu punya keinginan yang mungkin berbeda ataupun sama dengan rakyat lainnya..

Dalam benak hati saya berkata, negeri ini butuh pemimpin yang BERANI seperti

Mahmoud Ahmadinejad atau Hugo Chaves..yang mmenasionalisasi kekayaan alam demi rakyatnya dari cengkeraman asing.

Kalau Amerika berani menggulingkan Saddam Hussein, Thaliban, Moammar Qadhafi demi “Minyak” kenapa pemimpin kita tidak berani menasionalisasi Sumber Kekayaan alam demi rakyat ?
Siapakah pemipin baru yang cocok untuk negeri ini kedepan ?
Apakah militer, sipil, wanita, seniman, pengusaha, intelektual, agamis ? semua rakyat pastilah punya pilihan dan alasan sendiri-sendiri ?

Arie mengatakan, kombinasi sipil-militer dalam kepemimpinan di DKI Jakarta terbukti tidak mampu menyelesaikan persoalan yang ada. Dia mencontohkan, pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta saat ini tidak menjadi solusi bagi persoalan Ibukota yang kompleks. kombinasi ideal yang seharusnya dikedepankan di DKI Jakarta, lanjut Arie, adalah sosok yang mempunyai kecerdasan dan visi pembangunan dikombinasikan dengan sosok yang memiliki kedekatan kultural dengan Jakarta.
"Pembangkangan" Militer Atas Kepemimpinan Sipil Masih TerjadiPenataan kembali hubungan sipil-militer merupakan persoalan yang belum
terselesaikan. Secara lisan kalangan petinggi TNI selalu menyatakan akan
menerima apa pun keputusan pemerintah sipil. Namun, dalam prakteknya masih
tampak adanya "pembangkangan" dan "penolakan" terhadap keputusan politik
pemerintah.
Hal itu diungkapkan Pengamat Politik LIPI Ikrar Nusa Bakti yang membacakan
"Refleksi Akhir Tahun LIPI", di Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (6/11/2001).
LIPI mencontohkan ketika ketiga Kepala Staf Angkatan secara bersama-sama menolak


penggantian Panglima TNI Laksamana Widodo AS. Pernyataan ketiga Kepala Staf

Angkatan itu dapat dikategorikan sebagai tindakan insubordinasi dan berupaya
mempengaruhi pengambilan keputusan politik oleh Presiden Megawati.

"Ditundanya pergantian Panglima TNI atas dasar apa pun menunjukkan adanya krisis

yang kepemimpinan di jajaran TNI, tiadanya leadership planning dan akan
berpengaruh buruk pada regenerasi kepemimpinan TNI," ujar Ikrar.
Dia menambahkan sejauh presiden mengangkat Panglima TNI dari nama yang diajukanWanjakti, maka presiden tidak melakukan politisasi terhadap TNI. Sejak Mei 1998,lanjut Ikrar, adanya "willingness" dari TNI untuk mereformasi diri sudah tampakjelas. Namun, tindakan nyatanya di lapangan masih jauh dari memuaskan."Dalam kaitan itu, perlu tahapan-tahapan yang jelas mengenai langkah-langkahreformasi TNI yang akan dijalankan. Termasuk, dalam hal perubahan mendasar daridoktrin dan organisasi TNI," papar Ikrar.
Sementara kepada para politisi sipil di DPR dan MPR, LIPI mengingatkan Perlunya memiliki pengetahuan yang cukup soal pertahanan dan keamanan dalam arti luas dan sempit.

"Ini penting agar dalam menyusun TAP dan berbagai peraturan perundangan-undangan
lainnya tentang TNI dan Polri tidak terjadi kekeliruan konsepsional yang
berakibat fatal bagi pelaksanaan tugas kedua institusi itu," tandas Ikrar Lalu mengapa fakta ini menjadi menarik? Fakta ini menjadi menarik karena 10 tahun lalu, tahun 1999 saatdiadakan pemilu untuk menentukan siapa Presiden pertama yang memulai & memimpin era reformasi setelah Habibie bersedia turun akibat lepasnya Timor-Timur melalui Sidang Istimewa MPR, satu slogan muncul dikalangan masyarakat yang trauma pada rezim Soeharto yang pejabatnya dipenuhi orang-orang militer atau ex-militer yaitu "Asal Jangan Tentara". 10 tahun kemudian saat ini, slogan ini menjadi berbalik.Hal yang wajar, atau perlu untuk dianalisa lebih lanjut?


Mengingat tahun ini, calon kuat Presiden dari kalangan sipil hanya satu, yaitu Megawati. Dan jujur saja, Megawati dalam pandangan saya bukan Presiden dengan tingkat intelektualitas atau kemampuan orasi yang tinggi. Kemampuan orasi menjadi penting karena ia adalah satu-satunya pipa penyambung komunikasi tingkat tinggi diantara eksekutif dan legislatif dengan gang-gang kecil & warung kopi dipinggir kota. Tanpanya, maka kampanye hanya jadi pedih-pedih bawang merah semata. Nangis sebentar terus lupa.Terlebih lagi suara-suara negatif akan pemimpin sipil terus bermunculan di masyarakat. Gak usah jauh-jauh, bahkan di keluarga saya sendiri, ayah saya hampir selalu menyuarakan pendapat yang sama setiap saya membahas hal ini. Pemimpin non-militer gak akan dihormati militer, jadinya ya kayak Megawati, gak berani membersihkan militer" katanya. Saya biasanya hanya bisa menambahkan bahwa militer yang harus lebih dewasa, karena sebagai panglima tinggi suatu negara, jabatan Presiden harusnya sudah cukup mendapat penghormatan. Buat apa jadi Presiden kalau harus jadi Panglima terlebih dahulu? Kenapa gak Panglima TNI kita jadikan Presiden seumur hidup,….?, Saya bukan anti pemimpin militer. Pemimpin militer tentu memiliki kelebihannya sendiri. Pendidikan militer yang mendasarkan sistemnya pada brain-wash dan indoktrinasi disiplinisme & otokrasi pasti menghasilkan orang-orang yang siap.
Orang-orang yang siaga akan kecurangan, pengkhianatan & bau-bau penjilat. Orang-orang ini biasanya berciri sedikit bicara banyak bersikap. Sampai sini pemimpin militer masih bisa kita nilai positif. Tapi satu yang saya ragukan dari mereka : kemampuan menerima Demokrasi sebagai suatu ideologi, bukan praktikalitas atau kendaraan politik. Mereka yang besar di lingkungan keras, dengan orangtua yang senang memukuli satu sama lain biasanya tumbuh menjadi anak yang rusak secara psikologis. Jarang yang bisa mengubah mindset setelah otak kita dipenuhi satu ideologi. Dan ini yang saya lihat dari pemimpin-pemimpin ex-militer di Indonesia.

Yang saya sering perhatikan adalah bahwa mereka gampang teriritasi oleh komentar negatif.


Mereka juga senang mengumbar kalimat "demokrasi sudah kebablasan". Controlled Democracy, sepertinya jadi ideologi ideal para pemimpin ini. Yang perlu kita sadari tentu bahwa Controlled Democracy akan jadi "Demokrasi Terpimpin" 

Bukan berarti pemimpin non-militer berpikir dengan cara yang berbeda.

     Mereka pun banyak yang memiliki ideologi yang sama. Tapi ada keyakinan pada diri saya, bahwa mereka, yang sipil, yang tumbuh di lingkungan demokrasi, generasi pemimpin berikutnya akan siap menerima demokrasi sebagai suatu ideologi secara keseluruhan,

mengingat generasi pemimpin sipil saat ini tumbuh di era dimana militerisme dan kepemimpinan sipil sering dilebur menjadi satu. Sementara pendidikan Militer tidak akan pernah berubah di era demokrasi ataupun era hibrida dua muka.
Lalu apa berarti tahun ini kita harus memilih pemimpin tanpa latar belakang militer? Apapun jawabnya, pertanyaan baru yang akan muncul. Apa pemimpin sipil bisa memberikan kesejahteraan ekonomi & stabilisme seperti yang ditawarkan pemimpin dengan latar belakang militer? Ini seperti bertanya apa kopi & teh akan manis kalau diberi gula? Tanpa menjelaskan berapa banyak gula yang akan diberikan. Saya kira kita harus memberi kesempatan kepada pemimpin tanpa atau dengan latar belakang militer. Tapi yang saya tidak sependapat adalah memilih pemimpin dengan latar belakang militer karena latar belakangnya, bukan kapabilitasnya. Saya sadar mungkin kapabilitas dan latar belakang militer akan jadi korelasi yang nyata untuk para pemuja pemimpin militer, tapi yang saya maksud kapabilitas adalah kemampuan untuk menyatukan diri dan keinginan untuk memajukan perkembangan demokrasi di Indonesia tanpa interpretasi pribadi dan agenda tersembunyi.       Pilihlah karena satu bekas tinta contrengan anda mungkin satu-satunya yang menghindarkan kita dari 30 tahun lagi rezim Demokrasi dengan embel-embel interpretasi seorang diri.
Aturan kepemimpinan militer yang otoriter, akan lebih memudahkan sesorang pemimpin militer untuk melakukan Seni kepemimpinannya, tapi dilingkungan orang sipil akan menjadi lebih complicated, lebih rumit….lebih sulit….
Salah satu yang mempersulit melakukan Seni Kepemimpinan dilingkungan sipil adalah karena tidak terbiasa ditegakkan  “Ketaatan Yang  Mutlak Terhadap Peraturan Disiplin Dilingkungan Sipil”…

Jadi kunci keberhasilan Seni Kepemimpinan sebenarnya adalah Kemampuan seseorang untuk mampu menumbuh kembangkan “Ketaatan Terhadap Disiplin”…
Disiplin artinya adalah “Bersedia melakukan semua aturan yang ditetapkan oleh lingkungan hidupnya secara tulus ikhlas, tanpa harus dipaksa dan diawasi terus menerus oleh pimpinan, dilakukan secara lahir dan batin…”Kunci sukses seorang pemimpin adalah “Mampu menumbuh kembangkan rasa taat yang tulus dan ikhlas dihati dan fikiran anak buahnya..”
Kunci sukses untuk mampu menumbuh kembangkan ketaatan yang tulus dan ikhlas adalah sebagai berikut:
Ø  Mampu memberikan suri Tauladan dalam Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan YME, serta ketaatan terhadap Peraturan Disiplin itu sendiri,
Ø  Mampu menegakan hukum dan disiplin dilingkungan secara jujur, benar dan adil…
Ø  Mampu bersikap dan berperan sebagai pengayom anak buahnya yang membutuhkan perhatian, bantuan, nasihat, petunjuk, secara tulus dan ikhlas…
Ø  Mampu menjadi seorang guru, pembimbing, dalam setiap permasalahan baik masalah tugas maupun pribadi…
Ø  Mampu berperan dan bersikap sebagai kawan yang baik, yang mau mendengarkan segala curhat dan keluhan anak buahnya, pada saat saat santai diluar jam pekerjaan kantornya…
Kelima kemampuan tersebut diatas inilah yang diajarkan dan dipraktekan oleh almarhum Jendral TNI M.Yusuf pada saat beliau menjadi Menhankam Pangab di Indonesia, sehingga beliau sangat sukses memimpin ABRI dan dicintai oleh masyarkat sipil di Indonesia pada masanya….
Dengan berpedoman kepada lima hal inilah saya relative sukses melakukan seni kepemimpinan memimpin pasukan dilingkungan Corps Polisi Militer dan menegakan Hukum Disiplin Dan Tata Tertib Dilingkungan ABRI dan Keluarganya, selama sekitar 32 tahun tanpa cacat…
Pemimpin Bijak, adalah jika ada seorang anak buahnya menjadi sorotan publik (mendapat serangan) maka sebagai pemimpinnya dia harus meredamnya seperti memberhentikan sementara sampai semua menjadi clear, dengan mengusut pemberitaan itu benar adanya tidak.

Komandan Militer, jika ada seseorang yang menyerang anak buahnya maka satu pasukan yang di bawah komandonya harus menyerang balik, karena tindakan itu (penyerangan terhadap anak buahnya) adalah sama halnya menghina sang komandan.
Seorang pemimpin yang baik dia tidak hanya mengemban akan keberhasilan misinya akan tetapi juga bertanggung jawab atas anak buah yang di pimpinnya. baik itu perilaku anak buah atau keselamatan anak buahnya. sehingga ksetiaan anak buah akan terbentuk semakin kokoh.
Dalam suatu kepemimpinan militer sering kita dengar jika anak buah Nakal justru sang komandan merangkulnya dan di bina, karena di khawatirkan jika anak buah melenceng akan lebih berbahaya namun jika dibina sudah tidak bisa langkah paling akhir adalah di binasakan. Namun dalam kepemimpinan yang lain, anak buah yang nakal akan menjadi sebuah celah, sebuah celah untuk menyerang, jika anak buahnya melakukan tindakan tercela, yang langsung di sorot adalah, siapa dia? lalu siapa pemimpinnya?......lalu bagaimana pemimpin yang baik?
pertama, harus baik dahulu, dengan baik akan membimbing ke arah kebijaksanaan, dan sifat pemimpin yang baik dari sudut pandang penulis adalah :

  1. Tidak mengharap Penilaian Manusia, maksudnya penilaian manusia tidaklah konsisten, suatu hari sebagai pemimpin akan dihadapkan 2 kondisi yang pro dan kontra dengan keputusan yang di ambil, yang satu bilang bagus, brilyan,smart kemudian yang satu lagi bilang bodoh, idiot, once (o’on cekali) dll. begitulah seterusnya jika mengharap penilaian dari manusia tidak akan pernah ada benarnya, maka lakukanlah apa kata hatimu, harapkanlah penilaian dari TUHAN sehingga kamu akan berjalan lurus sesuai jalur
  2. Mendengarkan kritik dan saran, untuk kemajuan saran dan kritik memang sangat diperlukan akan tetapi jika seorang pemimpin harus menjalankan semua saran waktu kepemimpinannya tidak akan cukup jadi fokus pada tujuan adalah yang utama.
  3. Tegas,cerdas. seorang pemimpin diharap tegas memutuskan sesuatu hal, seperti di ibaratkan suatu panah yang menusuk tubuh, jika panah tidak segera dicabut maka kehidupan akan semakin lama memang, akan tetapi itu sama halnya menunggu kematian, namun jika langsung dicabut rasa sakit luar biasa dan terjadi pendarahan hebat pula bisa jadi langsung cepat is death. jadi tegas disini tidak harus sembrono asbun (asal bunyi) akan tetapi harus di imbangi dengan kecerdasan yaitu lari ke dokter terdekat.
  4. Lidah Pemimpin adalah lidah dewa, jadi jaga kharisma jangan banyak mengeluarkan perkataan tidak perlu dan hati-hati dengan setiap ucapan. karena pemimpin identik dengan enggan menjilat ludahnya kembali Tak ada prajurit yang bodoh, hanya ada perwira yang bodoh. Tak ada rakyat yang bodoh, hanya ada pemimpin yang bodoh. Ungkapan ini disitir Prof Dr Juwono Sudarsono untuk menggarisbawahi arti penting kepemimpinan.

Diakui oleh Juwono bahwa soal kepemimpinan merupakan soal penting dan krusial saat ini. "Indonesia adalah negara yang paling undermanaged di Asia Tenggara, dan ini tentu punya kaitan dengan rendahnya kualitas manajerial dan kepemimpinan," kata Juwono. Penyelenggaraan pemerintahan selama ini masih mengandalkan manajemen improvisasi, lanjutnya.

Di tengah diskusi tentang kepemimpinan ABRI, peringatan Juwono tentu menarik dicatat. Jika benar kualifikasi kepemimpinan kita layak dipersoalkan, maka persoalan yang sama layak pula diajukan pada kepemimpinan ABRI. Bukankah — seperti direfleksikan oleh buku Sayidiman Suryohadiprojo — kepemimpinan ABRI merupakan pemberi nafas penting bagi kepemimpinan nasional Indonesia, setidaknya dalam lebih dari separuh masa kemerdekaan? Ya. Merekonsruksikan kepemimpinan di Indonesia dengan menanggalkan perbincangan tentang kepemimpinan ABRI jelas sebuah kesia-siaan.Kepemimpinan ABRI nyaris bersifat omnipresent (selalu ada) sepanjang masa
.       Dijelaskan Salim Said, di masa pasca Perang Dingin sekarang, paradigma internasional mengenai kepemimpinan militer mengalami pergeseran. Di masa Perang Dingin, politik militer memang terdukung oleh kecenderungan Barat untuk menolak Komunisme. Pemakzulan pemerintahan militer, misalnya, seringkali didukung untuk sekedar menghindari dan menahan kekuasaan Komunis.
Pasca Perang Dingin, paradigma yang berkembang berbeda. Desakan masyarakat internasional ke arah proyek-proyek sipilisasi menguat. Politik militer dianggap tidak relevan. Seperti dinyatakan Juwono: "Militer yang berpolitik digugat sebagai sesuatu yang tidak wajar, tidak sehat, dan tidak benar." Tentu tak ada paksaan untuk menerima pandangan internasional itu sepenuhnya. Namun hadirnya kerisauan dan tantangan itu tentu membutuhkan respons sepadan dari kalangan ABRI.
,

KESIMPULAN
Militer Indonesia, memiliki sejarah yang sedikit unik dari negara lain. TNI terbentuk dari proses pengalaman sejarah perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan. Profesionalitas militer bagi TNI dikenal kemudian dengan  pasang surutnya dinamika politik nasional. Bahkan Harold Crouch,1999, di dalam militer dan politik Indonesia mengatakan bahwa personel militer merupakan bagian dari  elit politik dan ekonomi  dengan mempertahankan orde sosial yang ada. Pernyataan ini tentu didukung oleh  bukti emperis atas peran TNI dalam kehidupan politik nasional  sepanjang rezim orde baru
Aturan kepemimpinan militer yang otoriter, akan lebih memudahkan sesorang pemimpin militer untuk melakukan Seni kepemimpinannya, tapi dilingkungan orang sipil akan menjadi lebih complicated, lebih rumit….lebih sulit….
Salah satu yang mempersulit melakukan Seni Kepemimpinan dilingkungan sipil adalah karena tidak terbiasa ditegakkan  “Ketaatan Yang  Mutlak Terhadap Peraturan Disiplin Dilingkungan Sipil”…
Kepemimpinan Militer dijadikan Prioritas Utama. ditempatkan pada level nasional
Menyadari bahwa Pemimpin yang baik  adalah pemimpin yang mampu mengendalikan dan mengatasi krisis, maka diperlukan integritas dan kepekaan (sense of crisis) dalam rangka mengambil keputusan yang arif, cepat dan tepat.
di dalam kepemimpinan militer dari sejak zaman seoharto masyarakat aman tidak ada mengeluh baik dari segi ekonomi maupun lainnya sampai sekarang termasuk berhasil, bahwa kepemimpinan militer terkenal dengan kedisiflinan, baik dari segi sikap maupun dari ketegasannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Saya suka belajar belajar malam ini